Minggu, 28 September 2025

PENANGGALAN LITURGI TAHUN C / I
PEKAN BIASA XXVI
Warna Liturgi : Hijau 🟩
• St. Laurensius Ruiz, Yakobus Kyushei Tomonaga & Dominikus Ibanez (Martir dari Jepang
(klik Santo/a, Beato/a untuk melihat kisah singkatnya)

(klik bacaan, untuk melihat isi Bacaan Kitab Suci)

Renungan :
Melalui perumpamaan Lazarus dan orang kaya, kita dapat menangkap satu pelajaran berharga tentang dosa menutup mata terhadap penderitaan orang lain. Tidak ada salahnya orang menjadi kaya, berpakaian bagus, tiap hari bersukaria dalam kemewahan karena itu adalah tanda berkat Tuhan. Akan tetapi, kalau sampai ia menutup hati dari belas kasih maka hidupnya tidak berkenan di hadapan Allah. Orang miskin seperti Lazarus hanya membutuhkan makanan karena ia lapar dan ingin memulihkan kesehatannya; tidak lebih dari itu.

Setiap hari merupakan kesempatan bagi kita untuk membiarkan hati kita disentuh oleh penderitaan orang lain. Dalam situasi dewasa ini, apakah kita rela dan mau menjadikan rumah kita sebagai tempat penampungan sementara bagi saudara-saudara kita yang menjadi korban bencana? Apakah kita yang mampu menyekolahkan anak ke luar negeri dan makan di restoran dengan harga mahal masih dapat menutup mata terhadap tetangga kita yang anaknya tidak mampu sekolah dan makan hanya sekali dalam sehari? Apakah kita yang mempunyai mobil dan waktu, tega membiarkan tetangga kita sakit dan tidak dapat pergi berobat ke klinik, puskesmas, atau rumah sakit? Apakah kita yang mempunyai waktu, dana, dan tempat berteduh, tidak mau keluar mengajari anak-anak tetangga kita yang tidak mampu?

Yang kita lakukan adalah pergi ke luar atau setidaknya menengok sebentar apa yang terjadi di luar pagar rumah kita. Penderitaan orang lain mengajarkan kepada kita tentang nilai hidup. Kita tidak perlu mengistimewakan mereka supaya bisa merasakan seperti yang kita rasakan. Kita cukup memberikan apa yang mereka butuhkan bagi hidup mereka. Kita juga tidak akan mampu mengatasi semua penderitaan orang. Pada suatu saat, kita hanya akan mampu ada bersamanya. Menemani dia saja sudah cukup baginya.

Hidup di dunia ini cuma sementara, yang kekal adalah hidup di alam baka. Namun, tetap saja tidak sedikit dari kita yang menghabiskan seluruh energi untuk meraih kemuliaan dan kemenangan fana. Kita berusaha mendapatkan dan mereguk kenikmatan semaksimal mumgkin, membangun monumen-monumen kebanggaan diri seturut ukuran dunia, entah itu kesuksesan, kekayaan, pangkat, kuasa, kehormatan, atau reputasi.

Itulah masalah yang dialami orang kaya yang disampaikan dalam Injil hari ini. Ia tidak memberi ruang kepada Tuhan dan orang lain dalam hidupnya. Semua itu karena ia asyik dengan dunianya sendiri dan sudah merasa nyaman hidup demikian. Kisah orang kaya dalam Injil mengingatkan kita untuk beranjak keluar dari penjara ego serta membuka hati dan budi kepada Tuhan dan sesama. Kita hendaknya menghayati keyakinan bahwa hidup yang sementara ini hanyalah kesempatan bagi kita untuk berbuat kasih dan kebaikan sebagai bekal memasuki kehidupan abadi di surga.

DOA :
Ya Bapa, Yang Maha Rahim, bantulah kami agar kami mampu keluar dari egoisme dan cinta diri supaya kami mau berbagi dengan sesama dan akhirnya boleh bersukacita bersama Engkau dan para kudus-Mu. Amin.

Sumber :
BUKU ZIARAH BATIN 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rabu, 5 Maret 2025

Jumat, 3 Januari 2025

Sabtu, 15 November 2025